Shariah 4 the world

Lembutkanlah sikap dan nada itu wahai kaka

mengaji al-qur'an | al-hikmah
“Udah kakak bilang berkali-kali! Masih aja begitu terus!”
“Dulu itu Ibu tidak pernah seperti ini!”
Jika anak atau adik kita membuat suatu kesalahan, janganlah sekali-kali bersikap keras lagi angkuh dihadapan mereka. Walaupun dari segi umur serta pengalaman kita jauh berbeda dengan mereka. Mereka juga sebenarnya membutuhkan tempat berbagi atau bercerita. Tak ayal juga mereka terkadang perlu diberikan tuntunan untuk menghadapi kehidupan yang baru akan berjalan.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (Ali-‘Imran [3]: 159)
Dalam tafsir Ibnu Katsir jilid 2, Al-Hasan al-Bashri berkata: “Yang demikian itu merupakan akhlak Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam yang dengannya Allah mengutusnya.”
Seorang anak atau adik kita baru akan belajar mengenal apa itu kehidupan, apa itu masalah. Mereka baru akan mengenal sebuah tanggungjawab yang harus mereka lakukan. Mereka baru akan mengenal segala resiko dari tingkah laku serta tutur kata yang mereka ucapkan. Kalau saja kita memberitahu segala sesuatu yang baru mereka kenal dengan keras lagi cuek, bagaimana mereka bisa paham? Yang ada, mereka justru akan merasa ketakutan dengan sikap yang selama ini kita tunjukkan. Sehingga mereka lebih memilih mencari di luar rumah, daripada di dalam rumah. Padahal seharusnya kewajiban kita untuk membuat rumah seperti surga. Baiti Jannati, Rumahku, Surgaku.
“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali’Imran [3]:159)
Kita sebagai Ibu atau Kakak bagi mereka, tentu tak mudah menjalani peran tersebut. Karena sebuah kelembutan, berasal dari kebiasaan, bukan karena dari pembawaan. Mengapa dikatakan kebiasaan? Karena hal  tersebut dapat berubah-ubah. Kalau dari pembawaan, sudah barang tentu pastinya secara turun temurun. Tapi kenyataannya, hal ini bisa dirubah. Percayalah!
Kita sebagai seorang perempuan, pastinya lebih mendahulukan perasaan dibandingkan dengan logika. Namun jika lebih baik lagi, apabila diantara keduanya bisa seimbang. Sehingga pemilihan keputusan atas sebuah perkara, dapat diselesaikan secara adil. Dan jangan lupa, contohlah bagaimana para shahabiyah bersikap lemah lembut terhadap keluarga mereka sendiri, bahkan juga dengan orang lain. Ingat! Dalam setiap langkah dan perbuatan selalu ada Allah Yang Maha Melihat. Serahkan semua pada-Nya, jika sudah tidak ada lagi ide untuk berbuat.
“Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri.”(adz Dzariyat [51]:36)
Wallahua’lam Bisshowab.

0 komentar:

Posting Komentar