Lembutkanlah sikap dan nada itu wahai kaka
“Udah kakak bilang berkali-kali! Masih aja begitu terus!”
“Dulu itu Ibu tidak pernah seperti ini!”
Jika anak atau adik kita membuat suatu
kesalahan, janganlah sekali-kali bersikap keras lagi angkuh dihadapan
mereka. Walaupun dari segi umur serta pengalaman kita jauh berbeda
dengan mereka. Mereka juga sebenarnya membutuhkan tempat berbagi atau
bercerita. Tak ayal juga mereka terkadang perlu diberikan tuntunan untuk
menghadapi kehidupan yang baru akan berjalan.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (Ali-‘Imran [3]: 159)
Dalam tafsir Ibnu Katsir jilid 2, Al-Hasan al-Bashri berkata: “Yang demikian itu merupakan akhlak Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam yang dengannya Allah mengutusnya.”
Seorang anak atau adik kita baru akan
belajar mengenal apa itu kehidupan, apa itu masalah. Mereka baru akan
mengenal sebuah tanggungjawab yang harus mereka lakukan. Mereka baru
akan mengenal segala resiko dari tingkah laku serta tutur kata yang
mereka ucapkan. Kalau saja kita memberitahu segala sesuatu yang baru
mereka kenal dengan keras lagi cuek, bagaimana mereka bisa paham? Yang
ada, mereka justru akan merasa ketakutan dengan sikap yang selama ini
kita tunjukkan. Sehingga mereka lebih memilih mencari di luar rumah,
daripada di dalam rumah. Padahal seharusnya kewajiban kita untuk membuat
rumah seperti surga. Baiti Jannati, Rumahku, Surgaku.
“Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena
itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali’Imran [3]:159)
Kita sebagai Ibu atau Kakak bagi mereka,
tentu tak mudah menjalani peran tersebut. Karena sebuah kelembutan,
berasal dari kebiasaan, bukan karena dari pembawaan. Mengapa dikatakan
kebiasaan? Karena hal tersebut dapat berubah-ubah. Kalau dari
pembawaan, sudah barang tentu pastinya secara turun temurun. Tapi
kenyataannya, hal ini bisa dirubah. Percayalah!
Kita sebagai seorang perempuan, pastinya
lebih mendahulukan perasaan dibandingkan dengan logika. Namun jika lebih
baik lagi, apabila diantara keduanya bisa seimbang. Sehingga pemilihan
keputusan atas sebuah perkara, dapat diselesaikan secara adil. Dan
jangan lupa, contohlah bagaimana para shahabiyah bersikap lemah lembut
terhadap keluarga mereka sendiri, bahkan juga dengan orang lain. Ingat!
Dalam setiap langkah dan perbuatan selalu ada Allah Yang Maha Melihat.
Serahkan semua pada-Nya, jika sudah tidak ada lagi ide untuk berbuat.
“Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri.”(adz Dzariyat [51]:36)
Wallahua’lam Bisshowab.




0 komentar:
Posting Komentar