Shariah 4 the world

Antara Kasih Sayang Dan Materi Duniawi

Duniawi | al-hikmah
Menghadapi berbagai macam problematika dalam kehidupan, tidak jarang anakpun bisa menjadi salah satu korbannya, selain orang tua itu sendiri. Disaat sang ayah sibuk dengan rutinitas mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, dan sang ibu melupakan kewajibannya sebagai madrasah dirumah, maka kehidupan yang seharusnya penuh dengan kasih sayangpun berubah, menjadi kehidupan yang didasarkan atas materi duniawi.
Entah karena belum memahami hakikat peranan ayah atau ibu dirumah atau karena lalai, sehingga mereka mengabaikan posisi yang sangat penting tersebut. Mereka menggadaikan kasih sayang yang tak ternilai, dengan materi yang jelas memiliki nilai dan tak berkesan.
Kasih sayang merupakan titik pokok sang anak bisa menjalin hubungan yang sangat harmonis dengan orang tua dirumah. Saling berbagai, saling bercerita, tolong menolong, dan sebagainya. Tadzkiroh yang kiranya bisa dijadikan acuan seorang anak lebih baik, justru tidak didapatkan. Bahkan terkadang, mereka mendapatkan hal tersebut dari orang lain yang lebih tua, yang kebanyakan mereka anggap sebagai “orang tua angkat”.
Besarnya hubungan sebab akibat ketika melalaikan kata-kata romantis terhadap anak dan meninggalkan anak sendirian dengan segala permasalahan, justru membuat anak memiliki tekanan sendiri. Apalagi jika sang anak tidak dibekali dengan keimanan kepada Allah Ta’ala. Musibah! Sungguh, itu adalah musibah!
Banyaknya orang tua yang berpikiran, “jika aku meninggal, harta apa yang masih bisa aku tinggalkan untuk anakku?”  Astaghfirullah! Padahal para shahabat terdahulu, ketika mereka akan berjuang fisabilillah atau mereka diberi tanggungjawab sebagai seorang khalifah, mereka tidak meninggalkan suatu harta apapun kepada keluarga mereka, kecuali Allah dan Rasul-Nya! Subhanallah!
Layaknya, sebagai seorang muslim, baiknya kita melihat lagi, bagaimana peranan Rasulullah serta para shahabat dan shahabiyah dalam keluarganya. Apa yang mereka ajarkan serta berikan kepada keluarga? Kasih sayang atau justru materi duniawi? Bukankah mereka yang patut menjadi suri tauladan? Daripada tokoh-tokoh serta artis yang tidak jelas “tujuan hidupnya”, namun justru kita ikuti, karena untuk menyamakan “opini” yang ada pada zaman ini. Na’udzubillahi min dzalik!
Mengejar materi duniawi secara berlebihan, meskipun tujuannya untuk kebaikan namun melupakan kewajiban sebagai seorang ayah untuk mendidik tauhid dan akhlak anaknya dengan benar, adalah sebuah tindakan yang salah.
Jangan sampai karena terlalu disibukkan dengan mencari harta, hingga ajal itu tiba-tiba datang disaat-saat diri kita seperti itu. Allah ta’ala telah berfirman :
”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul-yaqiin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” ( At-Takaatsur [102]: 1-8).
Ada suri tauladan yang baik pada ibrahim, beliau mewariskan sebuah kalimat yang indah kepada anak-anaknya.
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“. (Al-Baqarah [2]: 132)
Semoga Allah selalu memberikan petunjuk bagi hamba-Nya yang mau berubah menjadi lebih baik.
Wallahua’lam bisshowab

0 komentar:

Posting Komentar