Antara Kasih Sayang Dan Materi Duniawi
Menghadapi berbagai macam
problematika dalam kehidupan, tidak jarang anakpun bisa menjadi salah
satu korbannya, selain orang tua itu sendiri. Disaat sang ayah sibuk
dengan rutinitas mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga,
dan sang ibu melupakan kewajibannya sebagai madrasah dirumah, maka
kehidupan yang seharusnya penuh dengan kasih sayangpun berubah, menjadi
kehidupan yang didasarkan atas materi duniawi.
Entah karena belum memahami hakikat
peranan ayah atau ibu dirumah atau karena lalai, sehingga mereka
mengabaikan posisi yang sangat penting tersebut. Mereka menggadaikan
kasih sayang yang tak ternilai, dengan materi yang jelas memiliki nilai
dan tak berkesan.
Kasih sayang merupakan titik pokok sang
anak bisa menjalin hubungan yang sangat harmonis dengan orang tua
dirumah. Saling berbagai, saling bercerita, tolong menolong, dan
sebagainya. Tadzkiroh yang kiranya bisa dijadikan acuan seorang anak
lebih baik, justru tidak didapatkan. Bahkan terkadang, mereka
mendapatkan hal tersebut dari orang lain yang lebih tua, yang kebanyakan
mereka anggap sebagai “orang tua angkat”.
Besarnya hubungan sebab akibat ketika
melalaikan kata-kata romantis terhadap anak dan meninggalkan anak
sendirian dengan segala permasalahan, justru membuat anak memiliki
tekanan sendiri. Apalagi jika sang anak tidak dibekali dengan keimanan
kepada Allah Ta’ala. Musibah! Sungguh, itu adalah musibah!
Banyaknya orang tua yang berpikiran,
“jika aku meninggal, harta apa yang masih bisa aku tinggalkan untuk
anakku?” Astaghfirullah! Padahal para shahabat terdahulu, ketika mereka
akan berjuang fisabilillah atau mereka diberi tanggungjawab sebagai
seorang khalifah, mereka tidak meninggalkan suatu harta apapun kepada
keluarga mereka, kecuali Allah dan Rasul-Nya! Subhanallah!
Layaknya, sebagai seorang muslim, baiknya
kita melihat lagi, bagaimana peranan Rasulullah serta para shahabat dan
shahabiyah dalam keluarganya. Apa yang mereka ajarkan serta berikan
kepada keluarga? Kasih sayang atau justru materi duniawi? Bukankah
mereka yang patut menjadi suri tauladan? Daripada tokoh-tokoh serta
artis yang tidak jelas “tujuan hidupnya”, namun justru kita ikuti,
karena untuk menyamakan “opini” yang ada pada zaman ini. Na’udzubillahi
min dzalik!
Mengejar materi duniawi secara
berlebihan, meskipun tujuannya untuk kebaikan namun melupakan kewajiban
sebagai seorang ayah untuk mendidik tauhid dan akhlak anaknya dengan
benar, adalah sebuah tindakan yang salah.
Jangan sampai karena terlalu disibukkan dengan mencari harta,
hingga ajal itu tiba-tiba datang disaat-saat diri kita seperti itu.
Allah ta’ala telah berfirman :
”Bermegah-megahan telah melalaikan
kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu
akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak
kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan
pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihatnya dengan
‘ainul-yaqiin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang
kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” ( At-Takaatsur [102]: 1-8).
Ada suri tauladan yang baik pada ibrahim, beliau mewariskan sebuah kalimat yang indah kepada anak-anaknya.
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“. (Al-Baqarah [2]: 132)
Semoga Allah selalu memberikan petunjuk bagi hamba-Nya yang mau berubah menjadi lebih baik.
Wallahua’lam bisshowab




0 komentar:
Posting Komentar