Shariah 4 the world

Wahai Aisyah (perempuan), Lemah lembutlah..

Wahai aisyah, Lemah lembutlah
Umair untuk Al-Mustaqbal.Net
“Dari Aisyah r.a, dia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda kepadaku : “Wahai Aisyah, hendaklah engkau bertakwa kepada Allah Azzawajalla dan lemah lembut. Sesungguhnya tidaklah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu melainkan ia akan memperindahnya, dan tidaklah kelemah lembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.
Ternyata Alloh mencintai kelembutan dan itu tercermin dari perilaku Rasululloh SAW semasa hidup beliau. Sikap lemah lembut tidak hanya diutamakan ada pada diri wanita, namun untuk semua kaum muslimin. Berikut contoh-contoh sifat lemah lembut Rasul dalam beberapa hal :
1.    Lembut terhadap istri/keluarga
Sangat banyak hadits yang menceritakan betapa Rasul sangat lemah lembut terhadap istri-istri nya. Rasul tidak pernah melotot, menaikkan nada suara dan marah kepada istri nya. Beliau biasa memanggil istri-istrinya,  dengan panggilan kesukaan dan panggilan yang indah. Seperti ya Humaira untuk memanggil Aisyah. Rasul juga adalah orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. Banyak teladan Rasul yang bisa menjadi inspirasi kita dalam bersikap lemah lembut terhadap istri
2.    Lembut terhadap pembantu
Anas bin Malik adalah salah satu sahabat yang membantu mengurus kebutuhan rumah tangga Rasul. Selama 10 tahun bekerja kepada Rasul,  ia tidak pernah mendapati Rasulullah mengumpat, atau menyalah-nyalahkan pekerjaan yang telah ia lakukan.
3.    Lembut terhadap anak-anak
Rasulullah pernah mencium Al-Hasan bin Ali, sementara Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi sedang duduk di sisi beliau. Maka Al-Aqra’ berkata, ‘Aku memiliki 10 anak, namun tidak ada satu pun dari mereka yang kucium.’ Kemudian Rasulullah memandangnya, lalu bersabda, ‘Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.’ (HR. Bukhari Muslim).
4.    Lembut terhadap orang jahil/belum paham islam
Ada seseorang yang berbicara di dalam shalatnya. Dia mengira, bahwa ketika sedang mengerjakan shalat diperbolehkan berbicara. Karena orang ini jahil (tidak mengetahui hukumnya) dan mukhthi’ (keliru), maka shalatnya tidak batal. Dia telah melakukan sebuah kesalahan, namun tanpa maksud yang disengaja. Secara khusus, terdapat dalil yang menunjukkan perbuatan seperti ini. Yaitu hadits Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami Radhiyallahu ‘anhu , yang cukup panjang, tentang diharamkannya berbicara ketika seseorang sedang shalat.
Kisah ringkasnya, tatkala Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami Radhiyallahu ‘anhu shalat berjama’ah bersama Rasulullah, ia mendengar orang bersin. Dan orang yang bersin itu berkata “alhamdulillah,” sehingga ia pun berkata (menjawab) “yarhamukallah”. Akhirnya, orang-orang di sekitarnya memandang kepadanya. Dia pun berteriak. Lalu orang-orang di sekitarnya memukul-mukul paha mereka sebagai isyarat agar ia diam. Maka Mu’awiyah bin al Hakam as Sulami Radhiyallahu ‘anhu pun terdiam. Begitu shalat usai, manusia yang paling berakhlak mulia (yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) memanggilnya. Akhirnya, Mu’awiyah bercerita tentang akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan dan membimbingnya: Aku belum pernah melihat seorang pendidikpun sebelumnya maupun setelahnya yang lebih baik darinya. Demi Allah, ia tidak membentakku, tidak memukulku, dan tidak mencaciku.
5.    Lembut terhadap orang yang meminta-minta
Suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?”
Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul lalu berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!”
Pengemis itupun pulang mengambil satu-satunya cangkir miliknya dan kembali lagi pada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.”
Rasulullah SAW menawarkannya kembali, “Adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.
Rasulullah SAW memberikan dua dirham itu kepada si pengemis lalu menyuruhnya menggunakan uang itu untuk membeli makanan untuk keluarganya dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. Rasullulah SAW berkata, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya Rasulullah SAW pun memberinya uang untuk ongkos.
Dua minggu kemudian pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Kemudian Rasulullah SAW menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya seraya bersada, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat sesorang tidak bisa berusaha.“
6.    Lembut ketika amar ma’ruf nahi munkar
Dikisahkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk-duduk bersama para shahabat radhiyallahu ‘anhum di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab badui (kampung) masuk ke dalam masjid, kemudian kencing di dalamnya. Maka, dengan serta merta, bangkitlah para shahabat yang ada di dalam masjid, menghampirinya seraya menghardiknya dengan ucapan yang keras. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka untuk menghardiknya dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai orang tersebut menyelesaikan hajatnya. Kemudian setelah selesai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan setimba air untuk dituangkan pada air kencing tersebut. (HR. Al Bukhari)
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil ‘Arab badui tersebut dalam keadaan tidak marah ataupun mencela. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menasehatinya dengan lemah lembut:
“Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang benda najis (seperti kencing, pen) atau kotor. Hanya saja masjid itu dibangun sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al Qur’an.” (HR. Muslim)
Melihat sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian lembut dan halusnya dalam menasehati, timbullah rasa cinta dan simpati ‘Arab badui tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia pun berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.” Mendengar doa tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan berkata kepadanya:
“Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)
7.    Lembut terhadap orang kafir yang memusuhi kita
Kisah Nabi ketika berdakwah ke Bani thaif, lalu beliau dicaci maki, dihina dan dilempari batu hingga kaki beliau berdarah-darah.  Akhirnya beliau menjauh dari thaif dan berdoa
” Wahai Tuhanku, kepada Engkau aku adukan kelemahanku  dan kekurangan daya-upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha Rahim kepada siapa Engkau akan menyerahkan aku? Kepada musuh yang akan menerkamku ataukah kepada keluarga yang engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal aku tetap dalam keridhaanMu…”
Demikianlah doa Baginda Rasulullahu yang penuh dengan kepasrahan dan keikhlasan kepada Allah s.w.t. Mendengar doa NabiNya ini, Allah s.w.t menurunkan Jibril AS yang langsung turun berhadapan dengan Rasulullah dan mengucapkan salam seraya berkata:” Allah s.w.t.. mengetahui apa yang telah terjadi diantara kamu dan orang-orang ini. Allah s.w.t. telah memerintahkan malaikat yang menjaga gunung-gunung disini khusus untuk menjalankan segala perintah kamu.”
Sambil berkata demikian Jibral menghadapkan malaikat penjaga gunung-gunung  itu kepada Baginda s.a.w,  kata Malaikat ini: “Wahai Rasulullah, saya siap untuk menjalankan perintah engkau. Jika engkau ingin, saya sanggup membuat gunung-gunung yang berada diantara kota ini saling berbenturan sehingga penduduk-penduduk mati tertindih. Jika tidak, perintahkan apa saja hukuman yang selayaknya diterima oleh orang-orang ini.”
Namun apa jawab Rasulullahu mendengar tawaran Malaikat itu? Nabi Muhammad s.a.w. yang penuh dengan sifat rahim dan belas kasihan ini tidak mengiakan tetapi berkata:”Walaupun orang-orang ini tidak menerima Islam, saya harap dengan kehendak Allah s.w.t., keturunan-keturunan mereka, pada satu masa nanti, akan menyembah Allah s.w.t.. dan berbakti kepadaNya.”
8.    Lembut terhadap orang ahli maksiat
Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan di dalamnya disebutkan:
“Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba datang seseorang dan berkata: “Ya Rasulullah, celaka aku!”
Beliau berkata: “Ada apa dengan kamu?”
Ia berkata: “Aku menyetubuhi istriku, sedang aku dalam keadaan berpuasa.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu memiliki budak yang bisa kamu merdekakan?”
Ia menjawab: “Tidak.”
Beliau bersabda: “Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?”
Ia menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Apakah kamu bisa memberi makan enam puluh orang miskin?”
Sekali lagi ia menjawab: “Tidak.”
Lalu diamlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ketika kami masih berada dalam keadaan hening (terdiam), didatangkanlah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah keranjang yang berisi kurma. Beliau bersabda: “Mana orang yang bertanya tadi?” Ia berkata: “Saya.” Beliau bersabda: “Ambillah ini dan sedekahkanlah dengannya.” Orang tersebut berkata: “Apakah ada orang yang lebih fakir dariku ya Rasulullah? Demi Allah tidak ada di antara dua kampung ini rumah yang lebih fakir dari rumahku.”
Tertawalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai nampak gigi taringnya, kemudian beliau bersabda: “Berikan ini kepada keluargamu.”
9.    Lembut terhadap kesabaran dan kesusahan
Pada tahun kesepuluh kenabian, istri Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid, dan pamannya, Abu Thlaib, wafat. Berkata Ibnu Sa’d dalam Thabaqat-nya: Selisih waktu antara kematian Khadijah dan kematian Abu Thalib hanya satu bulan lima hari.
Khadijah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hisyam , Pada saat-saat Rasulullah menghadapi masalah-masalah berat, ia-lah yang selalu menghibur dan membesarkan hati rasuullah. Sebagaimana halnya Abu Thalib, dia telah memberikan dukungan kepada Rasulullah dalam menghadapi kaumnya.
Berkata Ibnu Hisyam: Setelah Abu Thalib meninggal, kaum kafir Quraisy bertambah leluasa melancarkan penyiksaan kepada Rasulullah, sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah. Sehingga pernah beliau pulang ke rumah berlumuran tanah. Melihat ini, salah seorang putri beliau bangkit dan membersihkan kotoran dari atas kepalanya sambil menangis. Tetapi Rasulullah, berkata kepadanya, “Janganlah engkau menangis wahai anakku, sesungguhnya Allah akan menolong bapakmu.“
10. Lembut terhadap Makhluk Alloh
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan untuk berbuat baik atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya (ketika hendak menyembelih), dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim)
Itulah sepuluh sikap lemah lembut Rasul dalam kehidupan, jika kita melakukan nya karena mengikuti Rasul maka sikap lemah lembut kita bernilai ibadah. Dengan sikap lemah lembut, akan membuat diri ini seperti air putih yang dingin lagi menyegarkan. Setelah mengetahui ilmu dan dalil nya, tidak ada alasan bagi tiap muslim untuk tidak bersikap lemah lembut.
Namun perlu diperhatikan, lemah lembut tidaklah sama dengan lemah/kelemahan atau ketidaktegasan, hendaknya setiap muslim dan muslimah bisa dengan bijak memahami dan membedakan antara kasih sayang / lemah lembut dengan bersikap lemah / tidak tegas. Allah telah memberikan rambu-rambu kapan harus berlemah lembut, dan kapan harus bersikap keras dalam menanggapi berbagai tantangan dan peristiwa.
Maka hendaknya kita bersikap lemah lembut dan tenang/tidak tergesa-gesa dalam segala urusan dan janganlah menjadi orang yang mudah marah. Janganlah kita menjadi orang yang tidak mempunyai sifat ar-rifq (lemah lembut), karena dengan tidak memiliki sifat ar-rifq akan membuat seseorang itu menyesal, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat… wallahu’alam..
Innalloohaa rifqun yuhibbu rifq fii kulli amrSesungguhnya Alloh adalah Dzat Yang Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam setiap perkara.

0 komentar:

Posting Komentar